Beberapa Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Penulis Pemula

Melalui tulisan ini, saya, Bang Syaiha ingin menuliskan beberapa hal yang menurut saya kurang tepat, dan biasanya menjangkiti penulis-penulis pemula. Sepenuhnya ini adalah buah pikiran saya, jadi kedudukan tulisan ini masih bisa diperdebatkan. Kebenarannya tidak mutlak.

…dengan senang hati, silakan beri masukan dan saran di kolom komentar jika berkenan.

Lalu, tulisan ini juga sepertinya akan menjadi sangat panjang, sehingga saya memutuskan akan membuatnya dalam beberapa bagian dan dipisah-pisah menjadi beberapa postingan yang judulnya akan tetap sama, Beberapa Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Penulis Pemula.

Kesalahan pertama yang sering kali muncul pada penulis pemula adalah munculnya keinginan untuk cepat sukses dan sesegera mungkin menerbitkan bukunya. Berharap buku yang ia tulis untuk pertama kalinya itu, bisa sukses dan laku keras. Padahal, bagi saya, menulis dan menerbitkan buku adalah sebuah perjalanan yang amat panjang, harus dilalui dengan tahapan-tahapan yang berat.

Penulis pemula itu seperti seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Awalnya, mereka tidak bisa melakukan apapun. Kecuali hanya menangis, mengerjap-ngerjapkan mata, dan tersenyum. Perlahan tapi pasti, bayi berkembang. Ia mulai akan belajar bagaimana caranya tengkurap, duduk, merangkak, belajar berdiri, merayap, berjalan pelan, hingga kemudian berlari.

Semua tahapan yang ada, harus dilalui si bayi agar perkembangan yang ada padanya lengkap. Karena satu saja terlewati, hasilnya tidak baik untuk dirinya juga kelak ketika dewasa.

Pernah, ada kasus seorang anak yang bisa berjalan tanpa melalui proses merangkak. Orangtuanya senang dan merasa bahwa anaknya tumbuh dengan percepatan yang berbeda dibandingkan dengan bayi lainnya. Hingga ketika si anak dewasa, ternyata ia tidak bisa menggenggam barang apapun yang ia pegang dengan kuat. Genggamannya lemah.

Ketika diperiksa ke dokter saraf, ternyata ia harus menjalani proses terapi merangkak. Ia harus merangkak selama satu jam setiap hari seperti bayi, di usianya yang telah remaja itu. Begitulah, penulis pemula itu, agar ia bisa tumbuh dengan pondasi yang benar, maka ia harus sabar menjalani proses belajar. Rajin menulis dan gemar membaca.

Lalu….

…jika menulis dan menerbitkan buku saya ibaratkan seperti proses melahirkan, maka untuk sampai brojol ke dunia, dibutuhkan waktu sembilan bulan penuh. Agar apa? Agar semua organ yang dibutuhkan untuk bertahan hidup bisa sempurna ada. Lahir sebelum waktunya, bisa-bisa saja, tapi biasanya rentan.

Begitu pun dengan buku yang kita terbitkan. Ada waktu belajar yang semestinya kita jalani dengan sabar. Jangan terburu-buru ingin tenar. Santai saja. Menulis saja dulu, setiap hari kalau bisa. Jangan lupakan juga membaca, karena tanpa membaca, tulisan yang kamu hasilkan pasti tidak akan bernyawa.

Demikian.

1 Comment

1 Trackback / Pingback

  1. Beberapa Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Penulis Pemula (2) – One Day One Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*