Pendewasaan Dalam Menulis

Seperti halnya hidup, proses kreatif dalam menulis juga berlangsung dalam beberapa fase yang harus dilewati oleh seorang penulis. Fase-fase umum yang biasanya terjadi ini biasanya berawal dari pengenalan dalam proses penulisan. Fase pengenalan ini biasanya berlangsung melalui media baca yang baik dan menarik, yang menjadikan seseorang tertarik untuk mencoba  menuliskan hal yang dia anggap menarik untuk dituliskan. Lebih dari delapan puluh persen orang pernah memasuki fase ini.

Setelah melewati fase ini, maka seseorang akan tiba pada proses pendewasaan dalam kepenulisan. Ini adalah fase paling penting. Di titik inilah seseorang akan menyadari apaakah dirinya layak untuk menjadi seorang penulis. Tahap ini seolah-olah menjadi tahap refleksi balik, mempertanyakan ulang, apakah rasa tertarik dari pengenalan pada tahap awal tadi layak untuk dilanjutkan.

Titik paling rawan, tidak sampai sepuluh persen orang bisa melalui hal ini. Kurangnya rasa percaya diri, rendahnya minat belajar menjadi pemicu utama. Mereka yang gagal dan mengaku kalah akan kembali menekuni rutinitas hariannya, melupakan mimpi untuk menjadi seorang penulis.

Sepuluh persen yang tersisa, tidak akan dengan mudah melalui pembabakan berikutnya, proses persaingan semakin kuat, racun yang mempengaruhi semakin banyak. Tapi, pada kesempatan ini saya tidak akan membahas masalah ini. Saya akan berfokus pada proses pendewasaan dalam menulis.

Pernah membaca beberapa karya dari seorang penulis yang terkesan mengulang pola-pola yang sama? Jika iya, maka penulis tersebut berada pada titik jenuh dalam kepenulisan, tapi ironisnya tidak sanggup lepas atau yang -mungkin- paling parah, malah tidak pernah menyadari bahwa dirinya terjebak dalam stagnasi kepenulisan.

Atau juga, ada seorang penulis yang secara proses kreatif malah semakin menurun, melepaskan label tulisan berat, nyastra, yang selama ini melekat pada dirinya, lebih suka menuliskan hal-hal remeh, latah mengikuti budaya populer yang sedang tren. Singkatnya, penulis ini mengalami penurunan, degradasi dalam proses kreatif kepenulisan, bukannya berkembang, dia malah kembali ke beberapa tahun seelumnya saat dia mulai belajar menulis. menyedihkan.

Penulis golongan ketiga, adalah penulis yang senantiasa mendobrak, mencoba mleepaskan diri dari sastra itu sendiri, melupakan hampir semua aturan kepenulisan dan -bahkan- meletakkan sendi baru yang bukan idak mungkin akan ditiru oleh penulis golongan pertama dan kedua.

Penulis golongan ini boleh jadi berpendapat, seperti halnya cinta dan iman, proses kreatif dalam kepenulisan juga senantiasa harus berani memperbarui diri setiap hari. Tidak pernah merasa kalau mereka sudah berada di gerbong terakhir dalam penulisan.

Golongan ini, namanya masih kita kenal sampai sekarang, pun mungkin beberapa dasawarsa ke depan.

Untuk teman-teman ODOP, selamat berkaya, selamat bermetamorfosa.

6 Comments

  1. Reminded me banget. Saya masih tahap pengenalan. Tapi ironisnya bertahan dlm pengenalan saja. Mau msuk tahap kdua rasanya brat.
    Mngkin butuh suasana baru biar bisa lnjut kyak awal2 dulu.
    Kangen masa2 awal, yg gx prnah kndur dlm semangat.

    • mencari perubahan suasana biasanya alasan paling mujarab supaya ada pembelaan, tapi bukan itu masalahnya. Stagnasi dalam penulisan dikarenakan kurangnya keberanian dalam mencoba hal baru

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*